Sabtu, Februari 14, 2015

Yang Kedua.....

Dalam perjalanan hidup hingga di titik ini, tak pernah kusangka bahwa aku akan menjadi wanita kedua dalam hidupmu. Yang harus rela menjadi sekedar pelipur sepimu di kota Metropolitan. Gundah hati antara terus mencintaimu dan rasa bersalah pada wanitamu di sudut kota itu, membuat semuanya serba abu-abu. Kata orang cinta harus diperjuangkan, kata pujangga, ketika kau jatuh cinta, rengkuhlah walau duri-duri tajam kan menggores dibalik sayap indahnya. Aku sungguh mencintaimu dalam rupa dan hatimu, dalam kesederhanaanmu, dalam segala hal yang menempel di tubuhmu. Dan kaupun mencintaiku dalam segala kegilaanku diantara cintamu pada wanitamu.
Pada satu sisi aku sangat bahagia menerima kehadiranmu dalam hidupku, tapi ketika kulihat wajah tak berdosa dia, hatiku semakin sakit bagai tersayat seribu sembilu, dan makin pilu saat kau hujani aku dengan rindu, seumpama cuka yang disiram diatas luka.
Terkadang ingin kukatakan padamu, agar kau kembali saja dengan satu wanita, iya...wanitamu disana. Namun, mampukah aku menjalani hari-hari tanpa tawa kita, tanpa kekonyolan kita tanpa tegur sapa. Oh Tuhan, betapa hina aku mencuri sebagian hatimu dari dia.
Melepaskanmu sama saja melepaskan sebagian dari diriku. Dan aku harus mampu hidup dengan sebagian itu. Mengumpulkan seluruh energi dan sisa hati agar suatu saat nanti, aku bisa melepasmu dengan kerelaan dan keikhlasan.
Ketika saat itu tiba,segala pesonamu semoga tak menggoyahkan langkahku, demi kebahagiaan keluarga kecilmu yang telah kau bangun bersama dia.
Kekasih, bukan aku tak mencintaimu, percayalah melepasmu merupakan hal terakhir yang akan aku lakukan. Ada sebuah kehidupan lain yang aku ganggu, ada sebuah hati tak berdoa yang telah aku usik. Aku akan merusak keseimbangan alam semesta jika terus seperti ini.
Kekasih, aku sungguh mendambamu melebihi semua hal yang aku inginkan, aku ingin bersamamu bahkan hingga jika surga itu ada, aku ingin bersamamu dalam keabadiannya. Engkaulah duniaku, tempat dimana aku menghirup udara kehidupan bersama semesta. Sungguh aku tak ingin berpisah denganmu, tapi aku harus.
Pergilah dan pulanglah kembali kau dengannya, aku tetap merindukanmu dengan sisa umur yang kumiliki. Biar Tuhan saja yang menghiburku kala aku merindukanmu dalam deraian airmataku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar