Jumat, Februari 06, 2015

Ibu



Membicarakan sosok yang bernama ibu, sepertinya tidak akan pernah habis dibahas dalam berbagai kesempatan. Ibu, wanita yang mengandung, melahirkan, merawat dan mendidik anaknya, wanita pertama yang akan setia menuntun langkah kecil kita, wanita yang akan selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan tangisan kita, memeluk kita dan doa-doa kebaikan dari kedua bibirnya tak akan habis dipanjatkan untuk kita. Ibu, sebagai tonggak awal kehidupan seorang manusia, dari kedua tangannyalah segala kelemahan dan ketidak berdayaan kita dimasa kecil bertumbuh. Tentu, tak akan habis rasanya segala terima kasih kita ucapkan, segala harta yang kita punya dipersembahkan untuk membalas kebaikan dan jasa-jasa beliau.
Menjadi seorang ibu, bukan sekedar tentang mengandung, melahirkan, dan menyusui, tapi tentang keajaiban tangan-tangan ibu, yang merupakan wakil dari Tuhan, untuk menjadi pendidik pertama bagi seorang anak manusia. Jika esensi menjadi ibu hanya sekedar ritual bilogis semata, maka tugas menjadi pendidik bagi anaknya seakan diabaikan. Mengapa demikian? Terkadang ada seorang wanita yang mungkin tidak bisa mengandung dan melahirkan atau menyusui, tapi bisa menjadi seorang ibu, menjadi wanita yang merawat anak-anak yang terlantar atau mendidik anak-anak, dalam hal ini bisa seorang guru wanita atau Ibu Asuh. Cerita tentang kisah ibu begitu kompleks, ada ibu yang begitu tega membuang anaknya sendiri, ada ibu asuh yang begitu sayang terhadap anak-anaknya, walau bukan anaknya secara biologis, atau kisah seorang ibu yang rela demi apa saja asal anaknya bisa menjadi lebih baik dari nasibnya.  
Saat pertama kali wanita merasakan ada janin yang sedang bertumbuh dalam tubuhnya, saat itulah secara otomatis, wanita ditakdirkan menjadi seorang ibu secara kodrat. Janin tumbuh dalam perut kasih dan sayang yang bernama Rahim. Tempat seorang anak manusia berkembang dan bertumbuh dalam alam kasat mata tapi nyata. Perjanjian antara Tuhan dengan manusia juga terjadi di dalam Rahim kasih ibu. Segala hal tentang takdir, nasib dan suratan terkirim ke dalam garis tangan anak manusia. Doa-doa dan segala harap seorang ibu tentu saja selalu tercurah hingga hari dimana kita dilahirkan ke dunia. Tangis bahagia dan penuh haru seakan mengobati tiap darah, peluh dan kesakitan yang  didera seorang ibu ketika anak yang 9 bulan tidur dalam pelukan kasih Rahim ibunya. Tidak sampai tahap itu saja tugas seorang ibu. Ada tugas berat lain sudah menanti, menyusui, merawat seorang bayi mungil, harus bangun di malam hari, mengganti popok, menggendong dan membuai kita dalam pelukannya. Bukan perkara mudah memang, mental seorang ibu benar-benar diuji, dengan segala lelah dan letih mendera, kita yang hanya bisa menangis dan tak berdaya, diasuh dengan kasihnya. Ketika kita mulai beranjak merangkak, berjalan dan kadang terjatuh, tangan dan pelukan ibu selalu sigap, menyeka air mata kita, memeluk kesedihan dan rasa sakit kita. Membelai dengan segala cintanya. Teriakan, bahkan rengekan manja kita yang menjengkelkan tak menyurutkan cinta ibu kepada kita. Bahkan ketika kita remaja dan beranjak dewasa, dengan segala kenakalan kita tak menyurutkan kasih nya. Ahh....Tak kan pernah habis rasanya kasih sayangnya tercurah untuk kita. Benar adanya ketika ada ungkapan, bahwa Ibu merupakan malaikat nyata yang dikirimkan Tuhan untuk kita.
Akhirnya, ada pada titik dimana kita, wanita memiliki kesempatan untuk menjalani peran seperti ibu kita. Mengandung, melahirkan dan merawat anak-anak kita. Walau terkadang kesabaran kita harus terus diuji, tapi apapun diri kita, di tangan kitalah anak-anak bertumbuh secara mental. Jangan sampai ketidak sabaran, bentakan dan amarah kita membuat hati dan tumbuh kembang mental seorang anak menjadi tidak baik. Ada tugas berat dari kita menghantarkan generasi-generasi ini menjadi generasi penerus bangsa. Tentu saja bukan hanya tugas seorang ibu saja, ada peran ayah juga menyertai langkah seorang anak.
Selamat hari Ibu untuk semua ibu-ibu hebat yang berhasil mendidik anak-anaknya menjadi manusia-manusia berkualitas dan berkarakter baik. Kesuksesan anak-anak kita bukan hanya diukur berapa rumah sudah dihasilkan, bukan mobil yang berderet-deret atau rekening-rekening yang berjejer di berbagai bank, tapi menjadikan anak-anak kita anak yang memiliki kejujuran, empati, welas asih,kedermawanan dan humor yang baik.
Kita tak akan bisa sempurna menjadi ibu, tapi usaha dan doa kita semoga menjadi bekal bagi anak-anak kita. Menjadi ibu merupakan proses belajar terus menerus tanpa henti.
Selamat Hari Ibu
-          Ibe –  21-12-2014 23.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar