Membicarakan sosok yang bernama ibu, sepertinya tidak akan
pernah habis dibahas dalam berbagai kesempatan. Ibu, wanita yang mengandung,
melahirkan, merawat dan mendidik anaknya, wanita pertama yang akan setia
menuntun langkah kecil kita, wanita yang akan selalu menyediakan waktu untuk
mendengarkan tangisan kita, memeluk kita dan doa-doa kebaikan dari kedua
bibirnya tak akan habis dipanjatkan untuk kita. Ibu, sebagai tonggak awal
kehidupan seorang manusia, dari kedua tangannyalah segala kelemahan dan ketidak
berdayaan kita dimasa kecil bertumbuh. Tentu, tak akan habis rasanya segala
terima kasih kita ucapkan, segala harta yang kita punya dipersembahkan untuk
membalas kebaikan dan jasa-jasa beliau.
Menjadi seorang ibu, bukan sekedar tentang mengandung,
melahirkan, dan menyusui, tapi tentang keajaiban tangan-tangan ibu, yang
merupakan wakil dari Tuhan, untuk menjadi pendidik pertama bagi seorang anak
manusia. Jika esensi menjadi ibu hanya sekedar ritual bilogis semata, maka
tugas menjadi pendidik bagi anaknya seakan diabaikan. Mengapa demikian?
Terkadang ada seorang wanita yang mungkin tidak bisa mengandung dan melahirkan
atau menyusui, tapi bisa menjadi seorang ibu, menjadi wanita yang merawat
anak-anak yang terlantar atau mendidik anak-anak, dalam hal ini bisa seorang
guru wanita atau Ibu Asuh. Cerita tentang kisah ibu begitu kompleks, ada ibu
yang begitu tega membuang anaknya sendiri, ada ibu asuh yang begitu sayang
terhadap anak-anaknya, walau bukan anaknya secara biologis, atau kisah seorang
ibu yang rela demi apa saja asal anaknya bisa menjadi lebih baik dari nasibnya.
Saat pertama kali wanita merasakan ada janin yang sedang
bertumbuh dalam tubuhnya, saat itulah secara otomatis, wanita ditakdirkan
menjadi seorang ibu secara kodrat. Janin tumbuh dalam perut kasih dan sayang
yang bernama Rahim. Tempat seorang anak manusia berkembang dan bertumbuh dalam
alam kasat mata tapi nyata. Perjanjian antara Tuhan dengan manusia juga terjadi
di dalam Rahim kasih ibu. Segala hal tentang takdir, nasib dan suratan terkirim
ke dalam garis tangan anak manusia. Doa-doa dan segala harap seorang ibu tentu
saja selalu tercurah hingga hari dimana kita dilahirkan ke dunia. Tangis
bahagia dan penuh haru seakan mengobati tiap darah, peluh dan kesakitan yang didera seorang ibu ketika anak yang 9 bulan
tidur dalam pelukan kasih Rahim ibunya. Tidak sampai tahap itu saja tugas
seorang ibu. Ada tugas berat lain sudah menanti, menyusui, merawat seorang bayi
mungil, harus bangun di malam hari, mengganti popok, menggendong dan membuai
kita dalam pelukannya. Bukan perkara mudah memang, mental seorang ibu
benar-benar diuji, dengan segala lelah dan letih mendera, kita yang hanya bisa
menangis dan tak berdaya, diasuh dengan kasihnya. Ketika kita mulai beranjak
merangkak, berjalan dan kadang terjatuh, tangan dan pelukan ibu selalu sigap,
menyeka air mata kita, memeluk kesedihan dan rasa sakit kita. Membelai dengan
segala cintanya. Teriakan, bahkan rengekan manja kita yang menjengkelkan tak
menyurutkan cinta ibu kepada kita. Bahkan ketika kita remaja dan beranjak
dewasa, dengan segala kenakalan kita tak menyurutkan kasih nya. Ahh....Tak kan
pernah habis rasanya kasih sayangnya tercurah untuk kita. Benar adanya ketika
ada ungkapan, bahwa Ibu merupakan malaikat nyata yang dikirimkan Tuhan untuk
kita.
Akhirnya, ada pada titik dimana kita, wanita memiliki
kesempatan untuk menjalani peran seperti ibu kita. Mengandung, melahirkan dan
merawat anak-anak kita. Walau terkadang kesabaran kita harus terus diuji, tapi
apapun diri kita, di tangan kitalah anak-anak bertumbuh secara mental. Jangan
sampai ketidak sabaran, bentakan dan amarah kita membuat hati dan tumbuh
kembang mental seorang anak menjadi tidak baik. Ada tugas berat dari kita
menghantarkan generasi-generasi ini menjadi generasi penerus bangsa. Tentu saja
bukan hanya tugas seorang ibu saja, ada peran ayah juga menyertai langkah
seorang anak.
Selamat hari Ibu untuk semua ibu-ibu hebat yang berhasil
mendidik anak-anaknya menjadi manusia-manusia berkualitas dan berkarakter baik.
Kesuksesan anak-anak kita bukan hanya diukur berapa rumah sudah dihasilkan,
bukan mobil yang berderet-deret atau rekening-rekening yang berjejer di
berbagai bank, tapi menjadikan anak-anak kita anak yang memiliki kejujuran,
empati, welas asih,kedermawanan dan humor yang baik.
Kita tak akan bisa sempurna menjadi ibu, tapi usaha dan doa
kita semoga menjadi bekal bagi anak-anak kita. Menjadi ibu merupakan proses
belajar terus menerus tanpa henti.
Selamat Hari Ibu
-
Ibe –
21-12-2014 23.00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar