Senin, Februari 16, 2015

Film PK (PeeKay)



Kesan saya setelah melihat film ini Cuma satu : luar biasa. Ide-ide yang ditampilkan dalam proses pencarian Tuhan sangat lucu, menggugah, tanpa menggurui  atau terkesan suci namun tepat sasaran. Bagaimana seorang PK yang artinya dalam bahasa Hindi Pemabuk (PeeKay) , mencari remote kontrol pesawat luar angkasanya agar dia bisa kembali ke Planet tempat tinggalnya.
Pada awalnya ,PK ini, tanpa sengaja mendarat di Planet bumi di sebuah desa padang pasir dalam keadaan telanjang, hanya membawa sebuah remote kontrol, alat untuk memanggil kembali pesawatnya. Yang kemudian saya analogikan dengan kehadiran kita di dunia dalam keadaan telanjang tanpa apapun, hanya membawa sebuah pesan ruh dari perjanjian kita sewaktu di dalam kandungan dengan Sang Pencipta, dimana segala hal sudah digariskan dan ditakdirkan untuk kita, itu menurut  agama yang saya anut.. :)
Masalah dan kompleksitas serta kelucuan seorang PK ini pun muncul saat remote kontrol tersebut dicuri oleh orang yang pertama kali dia temui. Telanjang dan tanpa remote kontrol, PK berjuang mencari remote kontrol dengan berbagai cara, hingga dia menemukan bahwa satu-satunya cara orang di dunia ketika tiada lagi pertolongan hadir, maka Tuhanlah sebagai jawaban atas segala persoalan. Mulailah seorang PK ini mencari Tuhan. Dia pun makin dibingungkan dengan cara berpikir manusia tentang Tuhan yang berbeda-beda, hingga seorang PK ini melaksanakan semua ajaran Agama agar Tuhan segera mengembalikan remote kontrolnya. “Aku hanya ingin pulang Tuhan”....dan kedua air matapun meleleh.
Kelucuan, tawa, keluguan pertanyaan atas berbagai persepsi manusia tentang Tuhan mengalir ringan, menggugah diri tentang sejatinya eksistensi Tuhan itu sendiri. Ada satu konsep di dalam film ini yang layak direnungkan, tentang arti “Salah Sambung” cara kita berkomunikasi dengan Tuhan dan Alam semesta. Kita sebagai manusia dengan angkuhnya seakan menjadi wakil Tuhan yang berhak menghukum dan menyalahkan orang yang tidak sejalan dengan pemikiran kita tentang Tuhan itu sendiri. Jika kita kemudian pada akhirnya menjadi seorang Muslim dan menyakini bahwa Agama kita sebagai satu-satunya yang benar di mata Allah, Tuhan kita, bukankah umat lain yang mempercayai Tuhan mereka sendiri juga bisa mengatakan hal demikian, bahwa agama merekalah yang benar dan pemeluk lain salah. Pesan inilah yang kemudian menjadi renungan bagi diri kita sendiri tentang makna beragama itu sendiri. Manusia dilahirkan tanpa tanda apapun bahwa kita ini Muslim, Kristen, Hindu, budha atau agama apapun. Manusia terlahir suci dan bersih, yang kemudian oleh kedua orang tuanyalah diperkenalkan agama yang dianut oleh kedua orang tuanya. Ini sebuah kenyataan hidup, dan kemudian dalam proses pencarian Tuhan, manusia menemukan jalannya masing-masing. Ada yang terus mengikuti agama orang tuanya, ada yang kemudian menemukan makna beragama dan Tuhan setelah mengalami serangkaian panjang cerita, hingga menemukan Tuhan sesuai persepsi dan keyakinan. Jika anda termasuk orang yang masih berpikiran sempit tentang proses pencarian Tuhan versi PK ini, maka jangan nonton film ini, anda akan makin skeptis dan mulai menganggap bahwa pembuat film ini seorang atheis, liberal, antek Yahudi atau apapun persepsi “salah sambung”. Jika anda seorang yang ringan dalam beragama, penuh kasih dan memaknai sebuah eksistensi Tuhan dengan pemikiran terbuka, maka film ini akan jadi tontonan menarik sekaligus memberikan gambaran seorang PK yang tersesat di dunia dalam menemukan Tuhan dan Cinta kasih sejati.
Kita lahir didunia tanpa apapun, tanpa tanda agama apapun. Perjalanan hiduplah yang membuat kita mencari dan meyakini salah satu agama yang kita anut. Yakinilah, percayailah agama kita dengan sebaik-baiknya, jalankan sesuai dengan perintah dan jauhi semua larangannya. Namun, jangan kemudian kita menjadi pribadi yang seakan dekat dengan Tuhan dalam ritual ibadah, namun jauh dari kasih sayang kepada sesama dan mahluk Tuhan lainnya. Agama mungkin berbeda, bahasa mungkin tak sama, bahkan suku dan bangsa membuat kita asing, namun ada satu sifat dari Tuhan yang dapat diterima oleh semua mahluk Tuhan, yaitu Kasih Sayang.
Saya menangis, tertawa sekaligus tertawa menangis melihat film ini. Dan saya tidak heran, film PK ini ditentang di negara pembuatnya karena mengkritik pola para pemuka agama dalam ‘mengajarkan’ dan ‘mengenalkan’ Tuhan menurut  persepsi mereka . Heuheu......
Ibe – 16 Februari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar