Kesan saya setelah melihat film ini Cuma satu : luar biasa.
Ide-ide yang ditampilkan dalam proses pencarian Tuhan sangat lucu, menggugah, tanpa
menggurui atau terkesan suci namun tepat
sasaran. Bagaimana seorang PK yang artinya dalam bahasa Hindi Pemabuk (PeeKay)
, mencari remote kontrol pesawat luar angkasanya agar dia bisa kembali ke
Planet tempat tinggalnya.
Pada awalnya ,PK ini, tanpa sengaja mendarat di Planet bumi
di sebuah desa padang pasir dalam keadaan telanjang, hanya membawa sebuah
remote kontrol, alat untuk memanggil kembali pesawatnya. Yang kemudian saya
analogikan dengan kehadiran kita di dunia dalam keadaan telanjang tanpa apapun,
hanya membawa sebuah pesan ruh dari perjanjian kita sewaktu di dalam kandungan
dengan Sang Pencipta, dimana segala hal sudah digariskan dan ditakdirkan untuk
kita, itu menurut agama yang saya anut..
:)
Masalah dan kompleksitas serta kelucuan seorang PK ini pun
muncul saat remote kontrol tersebut dicuri oleh orang yang pertama kali dia
temui. Telanjang dan tanpa remote kontrol, PK berjuang mencari remote kontrol
dengan berbagai cara, hingga dia menemukan bahwa satu-satunya cara orang di
dunia ketika tiada lagi pertolongan hadir, maka Tuhanlah sebagai jawaban atas
segala persoalan. Mulailah seorang PK ini mencari Tuhan. Dia pun makin
dibingungkan dengan cara berpikir manusia tentang Tuhan yang berbeda-beda, hingga
seorang PK ini melaksanakan semua ajaran Agama agar Tuhan segera mengembalikan
remote kontrolnya. “Aku hanya ingin pulang Tuhan”....dan kedua air matapun
meleleh.
Kelucuan, tawa, keluguan pertanyaan atas berbagai persepsi
manusia tentang Tuhan mengalir ringan, menggugah diri tentang sejatinya
eksistensi Tuhan itu sendiri. Ada satu konsep di dalam film ini yang layak
direnungkan, tentang arti “Salah Sambung” cara kita berkomunikasi dengan Tuhan
dan Alam semesta. Kita sebagai manusia dengan angkuhnya seakan menjadi wakil
Tuhan yang berhak menghukum dan menyalahkan orang yang tidak sejalan dengan
pemikiran kita tentang Tuhan itu sendiri. Jika kita kemudian pada akhirnya
menjadi seorang Muslim dan menyakini bahwa Agama kita sebagai satu-satunya yang
benar di mata Allah, Tuhan kita, bukankah umat lain yang mempercayai Tuhan
mereka sendiri juga bisa mengatakan hal demikian, bahwa agama merekalah yang
benar dan pemeluk lain salah. Pesan inilah yang kemudian menjadi renungan bagi
diri kita sendiri tentang makna beragama itu sendiri. Manusia dilahirkan tanpa
tanda apapun bahwa kita ini Muslim, Kristen, Hindu, budha atau agama apapun.
Manusia terlahir suci dan bersih, yang kemudian oleh kedua orang tuanyalah
diperkenalkan agama yang dianut oleh kedua orang tuanya. Ini sebuah kenyataan
hidup, dan kemudian dalam proses pencarian Tuhan, manusia menemukan jalannya
masing-masing. Ada yang terus mengikuti agama orang tuanya, ada yang kemudian
menemukan makna beragama dan Tuhan setelah mengalami serangkaian panjang
cerita, hingga menemukan Tuhan sesuai persepsi dan keyakinan. Jika anda
termasuk orang yang masih berpikiran sempit tentang proses pencarian Tuhan
versi PK ini, maka jangan nonton film ini, anda akan makin skeptis dan mulai
menganggap bahwa pembuat film ini seorang atheis, liberal, antek Yahudi atau apapun
persepsi “salah sambung”. Jika anda seorang yang ringan dalam beragama, penuh
kasih dan memaknai sebuah eksistensi Tuhan dengan pemikiran terbuka, maka film
ini akan jadi tontonan menarik sekaligus memberikan gambaran seorang PK yang
tersesat di dunia dalam menemukan Tuhan dan Cinta kasih sejati.
Kita lahir didunia tanpa apapun, tanpa tanda agama apapun.
Perjalanan hiduplah yang membuat kita mencari dan meyakini salah satu agama
yang kita anut. Yakinilah, percayailah agama kita dengan sebaik-baiknya,
jalankan sesuai dengan perintah dan jauhi semua larangannya. Namun, jangan
kemudian kita menjadi pribadi yang seakan dekat dengan Tuhan dalam ritual
ibadah, namun jauh dari kasih sayang kepada sesama dan mahluk Tuhan lainnya.
Agama mungkin berbeda, bahasa mungkin tak sama, bahkan suku dan bangsa membuat
kita asing, namun ada satu sifat dari Tuhan yang dapat diterima oleh semua
mahluk Tuhan, yaitu Kasih Sayang.
Saya menangis, tertawa sekaligus tertawa menangis melihat
film ini. Dan saya tidak heran, film PK ini ditentang di negara pembuatnya
karena mengkritik pola para pemuka agama dalam ‘mengajarkan’ dan ‘mengenalkan’ Tuhan
menurut persepsi mereka . Heuheu......
Ibe – 16 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar