Minggu pagi yang basah oleh rintik hujan yang deras. Rasa malas bangun pagi membuat tubuhku masih saja tak mampu beranjak dari kasur. Namun entah semangat darimana, setelah diserang secara brutal oleh hawa malas akibat hujan pagi ini, tiba-tiba saja aku merasa harus bangun pagi untuk tetap menyeduh secangkir kopi hitam, ya....ritual setiap hari sebelum berangkat kerja.
Sudah jam 6.30, segera kuseduh kopi dan beberapa pisang oleh-oleh dari Tukang Jahit kakak sepupu, aku kukus dan memutar lagu penggugah semangat. Setelah pekerjaan rumah tuntas dengan menari-nari, kunikmati secangkir kopi dan 2 potong pisang kukus dengan rasa damai. Tuhan, terima kasih untuk pelajaran hidup hingga diriku sampai di pagi yang sedang Engkau rahmati dengan guyuran hujan.
Ada banyak cerita yang ingin kutulis, sekedar berbagi kisah, bagaimana kehidupan membuat kita jatuh bangun, tertawa, menangis atau sekedar diam sesaat. Tapi seperti biasa, selalu bingung harus dimulai darimana, hingga akhirnya kuputuskan, apapun itu akan kutulis.
Dulu, sewaktu masih kuliah, ada seseorang yang bilang padaku, ketika kau kehilangan arah, jiwamu oleng sesaat karena kehilangan semangat, mulai saja dengan berdiam sejenak, untuk mengembalikan jiwamu. Kemana tujuan hidupmu, mulailah dengan bagaimana kematian menjemputmu. Aku sempat bingung dengan perkataannya, kemudian dia menjelaskan lagi. Kau ingin mati dalam keadaan apa? Aku menjawab dengan entengnya, ingin mati dalam keadaan tenang, ditemani orang-orang yang menyayangiku dengan tulus dan menyayangi mereka serta aku sudah berusaha sekuat hati membahagiakan orang-orang yang kusayangi. Tak terasa airmataku menetes karena jawabanku sendiri. Dia menjawab, maka mulailah dari sekarang, beri yang terbaik untuk orang-orang yang kau sayangi, jangan mengharap imbalan apapun, cukup senyum dan bahagia mereka karena hadirmu menjadi dharmamu. Disitulah letak bahagiamu, lakukan semampumu dari dalam hatimu. Lakukan juga untuk sekelilingmu, orang-orang yang kau temui di jalan, walau hanya sekedar senyum manismu, percayalah....bisa saja senyum manis dan tulus darimu untuk orang yang kau temui di jalan membuat mereka bersemangat kembali. Berilah yang terbaik dengan kesederhanaan.
Kematian itu sesuatu yang dekat, sewaktu-waktu akan datang tanpa ampun merenggutmu dari kenikmatan duniawi, maka lakukan kebaikan sekecil apapun dari sekarang walau hanya sekedar menyingkirkan kerikil tajam di jalan. Jangan menunda kewajiban-kewajiban sekecil apapun itu, meminta maaflah pada orang-orang yang telah kau lukai perasaannya, berterima kasihlah pada orang-orang di hidupmu, lakukan seolah-olah kau akan mati hari ini.
Pagi ini, aku tersenyum mengingat nasehat itu, dan akan memulainya dengan meminta maaf pada orang-orang yang pernah kulukai hatinya, menelpon ibu dan gadisku.
Oh ya...andai hujan berhenti, mungkin rencana hari ini akan pergi mencari hutan, atau minggu depan. Sendiri :)
Kalau masih hujan ya sudah, di rumah saja, menunggu sore, ada janji bertemu kawan lama.
Dan kakak sepupu sudah datang membawa belanjaan, pagi ini aku yang akan memasak
Jakarta, minggu 4 Februari 2018, 07.30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar