Beberapa minggu lalu,
atasan memberikan info bahwa kantor yang kita tempati sekarang akan direnovasi
dalam 3 bulan kedepan. Pilihan yang diberikan oleh atasan tentu saja pindah
sementara ke kantor cabang yang jauh dari domisili kita team admin. Bukankah
mau tidak mau kita harus pindah, ya hanya untuk 3 bulan, tapi bayangan-bayangan
tentang jauh, belum macet dan kengerian serta problem-problem baik receh atau
berat langsung menghantui benak dan pikiran kita, terutama aku. Otakku langsung
bergolak, hal-hal njlimet, rumit seolah berhamburan di pikiran, dari harus
mandi pagi, joging dimajukan, dan urusan mau naik apa, sama siapa, nebeng
siapa. Selalu ada solusi, dan atasan sepertinya tahu kekhawatiran kita, ya
urusan transport dan kemacetan. Kita terbiasa santai, berangkat tanpa kemacetan
berarti, deket minimarket, jajan, makanan, mall dan hal-hal mudah lainnya. Dan sekarang
kita harus dihadapkan pada kantor sementara, yang jauh dari makanan,
minimarket, mall, dan kemudahan lainnya, seolah terisolasi bagai istri muda
yang disimpan. Hadeh .......
Atasan memberikan alternatif
untuk naik mobil kantor, dengan titik kumpul berada di kantor lama. Kita saling
berpandangan dengan pikiran masin-masing. Pada akhirnya beberapa teman kekeh
dengan tetap memakai sepeda motor sendiri, ada yang naik busway atau yang diantar
jemput pacar. Aihhhhh....
Aku? Yang ada di
pikiranku, akan mencoba semua cara dan transport menuju kantor yang jauh dan
macet tentu saja, bagiku seperti petualangan tersendiri. Sudah terbayangkan
bagaimana tingkahku saat naik busway, pasti akan nyaman melihat orang-orang
yang beraktivitas, mendengarkan musik dengan headset dan membaca buku saat
dapat tempat duduk. Dibalik kengerian dan pikiran-pikiran buruk tentang
perjalanan pulang dan pergi kantor ini menjadi berimbang kembali dengan
bayangan-bayangan apa saja yang bisa aku lakukan dengan berbagai pilihan transportasi.
Sudah kubayangkan pula andai aku mencoba transport dengan nebeng mobil atasan. Aku
duduk didepan sebelah sopir, asyik dengerin musik yang disetel supir, musik apa
saja aku nyaman. Tentu saja aku akan asyik dari kaca depan dan samping melihat motor,
mobil atau kendaraan lain yang bersliweran. Atau sekedar baca buku andai bosan
melihat orang-orang dari balik kaca mobil, atau bisa jadi akan asyik
mendengarkan obrolan-obrolan dalam mobil sambil sesekali menimpali atau tertawa
saja. Bahkan aku sudah membayangkan bagaimana nantinya jika aku mencoba nebeng
motor teman, akan kuanggap seperti naik motor touring. Ya touring selama 30-40 menit
lengkap dengan pernak-perniknya, macet yang bikin kesel sekaligus ingin
kutertawakan. Melihat orang-orang di jalanan, ngobrol ringan sama temen, atau
sekedar memperhatikan jalan, siapa tahu dia salah jalan. Hadeh...sudah sering
dia seperti itu
Diantara bayangan-bayangan
buruk, pikiran-pikiran tak bermutu kita, selalu selipkan pikiran-pikiran
alternatif betapa hal-hal yang menjengkelkan akan jadi petualangan asyik
tersendiri, yang sewaktu-waktu akan kita tertawakan. Jakarta kalau tak macet
bukanlah Jakarta tentu saja, toh bukan kita yang merasakan, hampir semua orang
di Jakarta mengalaminya dengan aneka ragam cerita dan problemnya masing-masing.
Kalau tidak kita nikmati saja keruwetannya dengan menertawakan, mau dijalani
dengan ngedumel? Mengumpat? Jengkel? Ya silahkan saja.....aku memilih
menikmatinya saja, dengan sedikit ngedumel di hati tapi sekaligus
menertawakannya. Dan aku akan punya bahan untuk menulis. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar