Entah kenapa, siang tadi pikiran seakan
penuh, emosi naik turun karena atasanku terus saja mengomel, kalau boleh aku
menyebutnya demikian walau agak tidak sopan sih. Dia terus saja mengomel
hal-hal yang seakan-akan jikalau Laporan Keuangan Pajak yang sedang aku
kerjakan tak selesai sesuai waktu dunia bakal runtuh, dunia bakal kiamat.
Padahal dia hanya perlu mengingatkan ala kadarnya, dan itu membuatku terpacu
mengejar tenggat waktu SPT, ya SPT 4 Perusahaan dan aku merasa tidak seluar
biasa itu mampu menyelesaikan, tapi pelan dan pasti sepertinya mampu mengejar
deadline, ya itu tadi asal tidak diomeli dengan ancaman menakutkan, perutku
mual.
Setelah omelan selesai, bukannya aku giat
menyelesaikan, tapi emosiku jadi tidak jelas, tertekan, inputan salah terus,
jurnal kebalik-balik dan yang lebih fatal aku tak menemukan buku saldo bank
serta bukti voucher. Tentu saja menambah kedongkolan, dan makin tak karuan
suasana hatiku.
Teman-teman kantor hanya bisa melihatku
dengan pikiran mereka sendiri, entah malas, takut, merasa ajaib melihat
tingkahku yang tak biasa. Untuk sesaat aku sadar beberapa pasang mata menatapku
dengan tatapan aneka rupa. Aku mulai menghentikan kerjaan, beranjak dari kursi,
memperhatikan sekeliling. Teman-temanku kembali sibuk dengan pekerjaan mereka
masing-masing. Lalu kemudian mataku tertuju pada salah satu temen yang
kelihatan pucat, aku dekati dia. “Kamu kenapa? Sakit?” Tanyaku pelan di samping
meja dia, namanya Yuli. Dia menjawab, iya badanku tak enak, masuk angin sepertinya atau mag karena aku telat
makan. Aku bertanya lagi, apa yang bisa aku bantu agar sakitmu ringan, aku
pijat ya, aku ada minyak angin. Diapun mengangguk lemah dan langsung membuka baju
memamerkan punggungnya. Haeh…ni anak, tapi aku tersenyum dengan tingkahnya.
Aku mulai memijat punggungnya dari atas ke
bawah, kuurut di bagian-bagian yang jadi keluhannya. Sekitar 15 menit aku
memijat dia. Setelah selesai, aku bilang, sudah enakan Yul? Dia jawab, iya
mbak, pijatanmu selalu enak. Dia tersenyum, aku tersenyum, dan ajaibnya
perasaanku yang tidak jelas tadi karena omelan atasan seakan hilang. Entah karena
apa tapi yang jelas suasana hatiku kembali netral, enak, rileks dan terasa
ringan. Padahal jelas, beban kerjaan masih menumpuk, tapi sepertinya habis
acara memijat teman, aku siap lagi menghadapi Inputan dan berbagai problematikanya.
Siang ini aku belajar banyak, perasaan tak
tenang karena faktor luar akan selalu ada, tapi kita selalu diberi pilihan
untuk meneruskan perasaan negative itu dalam pekerjaan atau sekedar berhenti
sejenak melakukan sesuatu, membantu teman kantor misal untuk memulihkan
ketidakstabilan jiwa.
Pelajaran kedua, jangan menyimpan energi
negative yang berasal dari orang lain, mereka tak berhak merusak jiwa kita,
merusak emosi dan ketenangan hati. Sesuatu yang merusak jiwa harus segera
disingkirkan, tentu dengan mekanisme yang baik dan tentu saja dengan cara
pribadi masing-masing dalam menyeimbangkan lagi perasaan-perasaan tak enak.
Segera kuseduh kopi, kembali ke meja kerja
dan mengecek HP sebentar, oh ada WA masuk, dan aku tersenyum bahagia untuk yang
kesekian kali sambil membalas pesan WA, setel music, kemudian meneruskan
pekerjaan. J
Kamis, 1 Februari 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar