Jumat, Februari 02, 2018

Dikejar deadline dan menolong teman kantor

Entah kenapa, siang tadi pikiran seakan penuh, emosi naik turun karena atasanku terus saja mengomel, kalau boleh aku menyebutnya demikian walau agak tidak sopan sih. Dia terus saja mengomel hal-hal yang seakan-akan jikalau Laporan Keuangan Pajak yang sedang aku kerjakan tak selesai sesuai waktu dunia bakal runtuh, dunia bakal kiamat. Padahal dia hanya perlu mengingatkan ala kadarnya, dan itu membuatku terpacu mengejar tenggat waktu SPT, ya SPT 4 Perusahaan dan aku merasa tidak seluar biasa itu mampu menyelesaikan, tapi pelan dan pasti sepertinya mampu mengejar deadline, ya itu tadi asal tidak diomeli dengan ancaman menakutkan, perutku mual.
Setelah omelan selesai, bukannya aku giat menyelesaikan, tapi emosiku jadi tidak jelas, tertekan, inputan salah terus, jurnal kebalik-balik dan yang lebih fatal aku tak menemukan buku saldo bank serta bukti voucher. Tentu saja menambah kedongkolan, dan makin tak karuan suasana hatiku.
Teman-teman kantor hanya bisa melihatku dengan pikiran mereka sendiri, entah malas, takut, merasa ajaib melihat tingkahku yang tak biasa. Untuk sesaat aku sadar beberapa pasang mata menatapku dengan tatapan aneka rupa. Aku mulai menghentikan kerjaan, beranjak dari kursi, memperhatikan sekeliling. Teman-temanku kembali sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Lalu kemudian mataku tertuju pada salah satu temen yang kelihatan pucat, aku dekati dia. “Kamu kenapa? Sakit?” Tanyaku pelan di samping meja dia, namanya Yuli. Dia menjawab, iya badanku tak enak, masuk  angin sepertinya atau mag karena aku telat makan. Aku bertanya lagi, apa yang bisa aku bantu agar sakitmu ringan, aku pijat ya, aku ada minyak angin. Diapun mengangguk lemah dan langsung membuka baju memamerkan punggungnya. Haeh…ni anak, tapi aku tersenyum dengan tingkahnya.
Aku mulai memijat punggungnya dari atas ke bawah, kuurut di bagian-bagian yang jadi keluhannya. Sekitar 15 menit aku memijat dia. Setelah selesai, aku bilang, sudah enakan Yul? Dia jawab, iya mbak, pijatanmu selalu enak. Dia tersenyum, aku tersenyum, dan ajaibnya perasaanku yang tidak jelas tadi karena omelan atasan seakan hilang. Entah karena apa tapi yang jelas suasana hatiku kembali netral, enak, rileks dan terasa ringan. Padahal jelas, beban kerjaan masih menumpuk, tapi sepertinya habis acara memijat teman, aku siap lagi menghadapi Inputan dan berbagai  problematikanya.
Siang ini aku belajar banyak, perasaan tak tenang karena faktor luar akan selalu ada, tapi kita selalu diberi pilihan untuk meneruskan perasaan negative itu dalam pekerjaan atau sekedar berhenti sejenak melakukan sesuatu, membantu teman kantor misal untuk memulihkan ketidakstabilan jiwa.
Pelajaran kedua, jangan menyimpan energi negative yang berasal dari orang lain, mereka tak berhak merusak jiwa kita, merusak emosi dan ketenangan hati. Sesuatu yang merusak jiwa harus segera disingkirkan, tentu dengan mekanisme yang baik dan tentu saja dengan cara pribadi masing-masing dalam menyeimbangkan lagi perasaan-perasaan tak enak.
Segera kuseduh kopi, kembali ke meja kerja dan mengecek HP sebentar, oh ada WA masuk, dan aku tersenyum bahagia untuk yang kesekian kali sambil membalas pesan WA, setel music, kemudian meneruskan pekerjaan. J


Kamis, 1 Februari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar