Aku masih menatap gayung
warna pink, mencari shampo sachetan, hari ini mau keramas. Pandanganku tertuju
pada pasta gigi yang sudah gepeng tak berisi dan tak kubuang. Sesat aku ragu
untuk menyentuh pasta gigi gepeng ini. Ada rasa perih di dada, seketika
kenangan tentang pasta gigi ini meluncur deras dalam ingatan. Ahh....kisah yang
entah bagaimana terjadi, begitu saja mengalir, bekas-bekas kenekatan hidupku. Hadeh....
Ya, pasta gigi ini benda
pertama yang dia berikan padaku di pagi itu. Entah kenapa terbawa di tasku dan
jadi benda yang setia di dalam tasku. Hingga suatu hari aku kehabisan pasta
gigi, kuambil dari tas, dan sejak saat itu, pasta gigi ini menjadi penghuni
setia gayungku yang berwarna pink. Dan tiap hari kupakai, terbayang hari-hariku
saat itu penuh senyum menjelang mandi. Membayangkan mimik wajahnya ketika memberikan
pasta gigi ini.
Hingga beberapa hari yang
lalu, habis sudah pasta gigi ini, dan itu sepertinya menjadi pertanda habis sudah
cerita tentang kebahagiaan pagi hari saat mandi.
Aku memang sengaja tak
membuangnya, biar saja terus menemaniku, menjadi penghuni di gayung pink. Entah
sampai kapan, aku tak tahu dan mungkin tak perduli lagi. Mungkin jika nanti dia
datang lagi membawakan aku pasta gigi lagi atau bisa saja orang lain yang akan
membawkannya, aku tak yakin. Karena hanya dia yang tahu kisah ini.
“Siskaaaaaaaa......mandinya
jangan lama-lama!!!!”
Aishh....Mbakku sudah
mulai teriak dan ngomel.
Jakarta, 5 Februari 2018
*Cerita yang tercipta
saat merasakan macet di dalam mobil*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar