Dan kisah dua anak manusia yang tertatih-tatih meraih cinta, terus mengalun, bagai suara bening gamelan di malam pertama. Terkadang keengganan menyeruak tak tentu arah, pun geloranya membuncah tak terbendung, bagai derasnya air bah menyapu daratan. Hati mereka tak pernah rapuh oleh asa dan puisi kehidupan yang tersaji dalam aroma kopi hitam di pekat malam. Cinta mereka penuh tawa, senyum manja dan tetesan air mata. Walau kesedihanpun terkadang hadir tanpa permisi, tiba-tiba saja muncul bak hantu di malam keramat.
Untuk sesaat hati kedua insan yang dimabuk cinta itu seakan gamang, saat harapan harus berjibaku dengan ratapan dan tangisan manusia-manusia yang menjadi alasan mereka hadir ke dunia. Akankah mereka-mereka mengerti bahwa pecinta membutuhkan kesempatan dan tempat untuk dunianya sendiri. Ahh....kalian berdua egois, memperjuangkan kebahagiaan cinta kalian namun di sisi lain menghancurkan surga dan impian hati manusia-manusia lain.
Oh Tuhan....salahkah kami? teriak mereka berdua dalam hati dengan tangisan yang sesak dan tertahan di dada.
Tidak ada yang salah dan benar, semua hanya tentang persepsi dan keyakinan yang menggerakan hati dan langkahmu.
Cinta yang sejati harus mampu melewati ujiannya sendiri, mungkin..ya mungkin saja cinta kalian berdua ini harus diawali dengan sesuatu yang buruk, agar kelak pengalaman itu menguatkan biduk bahtera. Percayalah saja pada apa yang menjadi kata hatimu, karena hidup selalu penuh resiko dan pembelajaran.
Selama kalian saling menguatkan, saling bergenggaman tangan dan tak lelah memeluk satu sama lain, terus saja berjuang untuk kekasihmu. Bayangkan saja andai tiada hadirnya di sisi ranjangmu, jika kau rasa hampa dan tak bergairah kala mata terbuka, maka dialah yang menjadi alasan kesempurnaan perjalanan hidupmu dalam mencari Tuhan. Cinta itu saling membutuhkan bukan hanya sekedar menginginkan.
*puasa hari ke 6 dan aku bahagia*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar