Sebuah kardus, merupakan dunia kotak yang mungkin sempit, hanya bisa
menampung seorang anak kecil. Tapi, bagi seorang anak sepertiku, dunia
kardus merupakan dunia yang penuh imajinasi. Jika yang pernah mengalami
masa kecil bermain dengan kardus, tentu akan merasakan betapa daya
imajinasi dan khayalan dunia dalam kardus begitu menyenangkan. Dunia yang diciptakan sendiri, tanpa ada orang yang mencibir, memusuhi bahkan membully.
Ketika
pertama kali aku berjumpa dengan kotak kardusku, aku merasakan
getaran-getaran indah melingkupi ruang hatiku. untuk beberapa saat aku
memandang dia. Apa keistimewaaannya, sehingga mampu membuatku tertegun.
Tiada yang istimewa, dia hanya sebuah kotak kardus televisi, yang hanya
mampu menampung tubuh kecilku. tapi..seketika itu juga, aku jatuh cinta
dan merasa bahwa dialah yang pantas mendapat kehormatan untuk berbagi
dengan dunia imajinasiku. Kubawa kardus itu dengan riang
gembira...Hatikupun bernyanyi, dan aku tak perduli lagi dengan alasan
apapun, karena aku bahagia....
Di dalam kardus, aku bebas
bercerita tentang kesedihan, kebahagiaan, atau pertanyaan-pertanyaan
diri yang terkadang tak bisa dijawab oleh orang dewasa. Di dalam kotak
kardus, aku bisa menangis, tanpa ada yang melihat. Aku bisa diam
merenung untuk sesaat tanpa ada yang menatap dengan tatapan sinis. Dan
ketika aku keluar dari kotak kardus, seakan bisa kuhadapi dunia. Aku
tak butuh orang lain untuk berbagi kardus. karena aku yakin, kardusku
tak kan muat untuk dimasuki 2 orang apalagi lebih. Aku tak butuh
anak-anak lain untuk mengerti keanehan pola imajinasiku dan khayalanku.
Kusimpan saja berdua dengan kotak kardusku.
Segala rahasia telah
kubagi dengan kotak kardusku. Hari- hari setelah kulalui denga dunia
nyataku dan bermain dengan anak-anak lain, aku selalu menyempatkan diri
untuk sekedar menyapa dan masuk dalam dunia kardusku. Dunia yang
kuciptakan sendiri. Aku bahagia.....
Dan tibalah, kala aku
harus melepas kotak kardus kesayanganku, karena telah rusak terkena
tetesan air hujan. Entahlah, seperti ada bagian dari kepingan hatiku
ikut hilang, ketika onggokan kotak kardusku diambil pemulung. Aku
menatap nanar, hampir saja jatuh air mataku. Aku kehilangan teman
khayalanku, aku sedih kehilangan dunia yang aman, tanpa kekerasan,
peperangan. Dan aku semakin sedih, akankah aku menemukan kotak kardus
seperti dia.
Segala cara , kulakukan agar aku bisa menemukan dan
mencari pengganti kotak kardusku. Tapi, tidak ada yang bisa
menggantikannya, bahkan ketika aku mendapat yang lebih besar dan lebih
bagus. Aku bingung, kenapa bisa begitu, seharusnya aku bahagia,
mendapati kotak kardus baru yang lebih dari kotak kardusku yang lalu.
Hari
itu, aku mendapat pelajaran hidup, tentang arti sebuah memiliki, siap
memiliki siap pula mengakhiri. bahkan tangisan apapun tidak akan membuat
apa yang telah pergi akan kembali, mungkin saja aku akan mendapat
kardus baru atau teman imajinasiku yang lain. tapi, saat itu , aku
belajar, bahwa ada kalanya, sesuatu memang tidak akan bisa terganti,
akan tetap jadi memori indah dalam kepingan-kepingan hidup kita.
Hidup
harus terus berjalan, dan aku tidak akan pernah lupa dengan kotak
kardusku, teman yang tanpa suara, yang tidak akan pernah bisa dimengerti
oleh orang dewasa. Aku berterima kasih atas kesetiaan, tempat dan dunia
yang telah aku bagi dengan dia, dan aku pun takkan lupa dengan
pelajaran tentang sebuah perjalanan hidup dari persahabatan aneh kami.
Pada
akhirnya....akupun siap mencari teman khayalan lain, bukan berarti aku
lupa pada kotak kardusku, tapi aku harus terus berjalan, menatap segala
kemungkinan dan pelajaran hidup yang akan aku temui.
Dan......akupun mendpatkannya, sebuah Pohon Jambu didepan rumahku......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar