Kamis, Juni 04, 2015

Catatan sebuah kardus

Sebuah kardus, merupakan dunia kotak yang mungkin sempit, hanya bisa menampung seorang anak kecil. Tapi, bagi seorang anak sepertiku, dunia kardus merupakan dunia yang penuh imajinasi. Jika yang pernah mengalami masa kecil bermain dengan kardus, tentu akan merasakan betapa daya imajinasi dan khayalan dunia dalam kardus begitu menyenangkan. Dunia yang diciptakan sendiri, tanpa ada orang yang mencibir, memusuhi bahkan membully.
Ketika pertama kali aku berjumpa dengan kotak kardusku, aku merasakan getaran-getaran indah melingkupi ruang hatiku. untuk beberapa saat aku memandang dia. Apa keistimewaaannya, sehingga mampu membuatku tertegun. Tiada yang istimewa, dia hanya sebuah kotak kardus televisi, yang hanya mampu menampung tubuh kecilku. tapi..seketika itu juga, aku jatuh cinta dan merasa bahwa dialah yang pantas mendapat kehormatan untuk berbagi dengan dunia imajinasiku. Kubawa kardus itu dengan riang gembira...Hatikupun bernyanyi, dan aku tak perduli lagi dengan alasan apapun, karena aku bahagia....
Di dalam kardus, aku bebas bercerita tentang kesedihan, kebahagiaan, atau pertanyaan-pertanyaan diri yang terkadang tak bisa dijawab oleh orang dewasa. Di dalam kotak kardus, aku bisa menangis, tanpa ada yang melihat. Aku bisa diam merenung untuk sesaat tanpa ada yang menatap dengan tatapan sinis. Dan ketika aku keluar dari kotak kardus, seakan bisa kuhadapi dunia. Aku  tak butuh orang lain untuk berbagi kardus. karena aku yakin, kardusku tak kan muat untuk dimasuki 2 orang apalagi lebih. Aku tak butuh anak-anak lain untuk mengerti keanehan pola imajinasiku dan khayalanku. Kusimpan saja berdua dengan kotak kardusku.
Segala rahasia telah kubagi dengan kotak kardusku. Hari- hari setelah kulalui denga dunia nyataku dan bermain dengan anak-anak lain, aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar menyapa dan masuk dalam dunia kardusku. Dunia yang kuciptakan sendiri. Aku bahagia.....
Dan tibalah, kala aku harus melepas kotak kardus kesayanganku, karena telah rusak terkena tetesan air hujan. Entahlah, seperti ada bagian dari kepingan hatiku ikut hilang, ketika onggokan kotak kardusku diambil pemulung. Aku menatap nanar, hampir saja jatuh air mataku. Aku kehilangan teman khayalanku, aku sedih kehilangan dunia yang aman, tanpa kekerasan, peperangan. Dan aku semakin sedih, akankah aku menemukan kotak kardus seperti dia.
Segala cara , kulakukan agar aku bisa menemukan dan mencari pengganti kotak kardusku. Tapi, tidak ada yang bisa menggantikannya, bahkan ketika aku mendapat yang lebih besar dan lebih bagus. Aku bingung, kenapa bisa begitu, seharusnya aku bahagia, mendapati kotak kardus baru yang lebih dari kotak kardusku yang lalu.
Hari itu, aku mendapat pelajaran hidup, tentang arti sebuah memiliki, siap memiliki siap pula mengakhiri. bahkan tangisan apapun tidak akan membuat apa yang telah pergi akan kembali, mungkin saja aku akan mendapat kardus baru atau teman imajinasiku yang lain. tapi, saat itu , aku belajar, bahwa ada kalanya, sesuatu memang tidak akan bisa terganti, akan tetap jadi memori indah dalam kepingan-kepingan hidup kita.
Hidup harus terus berjalan, dan aku tidak akan pernah lupa dengan kotak kardusku, teman yang tanpa suara, yang tidak akan pernah bisa dimengerti oleh orang dewasa. Aku berterima kasih atas kesetiaan, tempat dan dunia yang telah aku bagi dengan dia, dan aku pun takkan lupa dengan pelajaran tentang sebuah perjalanan hidup dari persahabatan aneh kami.
Pada akhirnya....akupun siap mencari teman khayalan lain, bukan berarti aku lupa pada kotak kardusku, tapi aku harus terus berjalan, menatap segala kemungkinan dan pelajaran hidup yang akan aku temui.
Dan......akupun mendpatkannya, sebuah Pohon Jambu didepan rumahku......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar