Selasa, Juni 23, 2015

Semburat cinta

Dan kisah dua anak manusia yang tertatih-tatih meraih cinta, terus mengalun, bagai suara bening gamelan di malam pertama. Terkadang keengganan menyeruak tak tentu arah, pun geloranya membuncah tak terbendung, bagai derasnya air bah menyapu daratan. Hati mereka tak pernah rapuh oleh asa dan puisi kehidupan yang tersaji dalam aroma kopi hitam di pekat malam. Cinta mereka penuh tawa, senyum manja dan tetesan air mata. Walau kesedihanpun terkadang hadir tanpa permisi, tiba-tiba saja muncul bak hantu di malam keramat.
Untuk sesaat hati kedua insan yang dimabuk cinta itu seakan gamang, saat harapan harus berjibaku dengan ratapan dan tangisan manusia-manusia yang menjadi alasan mereka hadir ke dunia. Akankah mereka-mereka mengerti bahwa pecinta membutuhkan kesempatan dan tempat untuk dunianya sendiri. Ahh....kalian berdua egois, memperjuangkan kebahagiaan cinta kalian namun di sisi lain menghancurkan surga dan impian hati manusia-manusia lain. 
Oh Tuhan....salahkah kami? teriak mereka berdua dalam hati dengan tangisan yang sesak dan tertahan di dada.
Tidak ada yang salah dan benar, semua hanya tentang persepsi dan keyakinan yang menggerakan hati dan langkahmu.
Cinta yang sejati harus mampu melewati ujiannya sendiri, mungkin..ya mungkin saja cinta kalian berdua ini harus diawali dengan sesuatu yang buruk, agar kelak pengalaman itu menguatkan biduk bahtera. Percayalah saja pada apa yang menjadi kata hatimu, karena hidup selalu penuh resiko dan pembelajaran. 
Selama kalian saling menguatkan, saling bergenggaman tangan dan tak lelah memeluk satu sama lain, terus saja berjuang untuk kekasihmu. Bayangkan saja andai tiada hadirnya di sisi ranjangmu, jika kau rasa hampa dan tak bergairah kala mata terbuka, maka dialah yang menjadi alasan kesempurnaan perjalanan hidupmu dalam mencari Tuhan. Cinta itu saling membutuhkan bukan hanya sekedar menginginkan.

*puasa hari ke 6 dan aku bahagia*

Senin, Juni 22, 2015

Waktu, Momen, Cinta dan Spiritual

Memasuki Ramadhan hari ke lima, waktu terus berjalan. Terkadang ingatan tentang peristiwa atau momen spiritual terutama bulan Ramdhan membuat diri semakin mapan secara Spiritual. Kita selalu mengupayakan awal kebaikan di bulan Ramadhan, seperti awal berhijab, awal rajin sholat, atau memulai sesuatu berdasarkan momen dan waktu, bahkan ada sebagian orang yang menikah di bulan Ramdhan. Tidak salah memang, tapi tak sepenuhnya dibenarkan mengingat hidup kita hanya menunggu momen waktu kematian. Terkadang kita membutuhkan sebuah spirit, semangat momen atau waktu dalam memulai kebaikan, tapi bukankah kebaikan jangan ditunda-tunda?
Bagi sebagian orang yang sudah tidak memperdulikan sebuah momen romantisme akan menyegerakan segala hal yang berupa kebaikan. Sedekahnya nanti aja kalau Ramadhan, pahalanya meningkat tajam, seriuosly? Kita kadang terjebak pada pola pahala dosa dalam memaknai sebuah peribadatan, baik itu ibadah langsung atau tak langsung. Berhijabnya ntar aja nyari momen Ramadhan....heuheu
Oleh karena itu Tuhan sangat bermurah hati dengan segala cintaNya kepada mahluknya, kebaikan walau sekedar niat sudah menjadi amal baik, dicatat rapi oleh Malaikat Roqib. Dan niat dalam keburukan takkan ditulis Malaikat 'Atid sebelum itu terjadi.
Kembali pada ingatan-ingatan kita tentang rentang waktu lampau saat Ramadhan, bahkan di masa kanak-kanak. Bermain dengan riang gembira menunggu bedug magrib, berlarian menuju rumah saat suara adzan atau sirine menadakan waktu berbuka telah tiba. Segala jenis lauk sudah menumpuk sesak seakan mulut tak sabar untuk melahapnya. Es campur dengan sirup aneka rupa siap kita teguk. Kita yang masih menganut pola pikir anak seakan menjadikan momen puasa menjadi kegembiraan sekaligus kegetiran saat siang. Kegembiraan saat berbuka, taraweh dan membunyikan mercon, getir saat siang panas pulang sekolah di meja tiada makanan, ya iyalah...puasa...heuheu
Kemudian ingatan-ingatan tentang puasa masa remaja, masa kuliah atau bekerja di rantau orang atau saat puasa dengan pasangan masing-masing. Ada suka ada duka yang terus berputar di kepala kita, tapi sesedih apapun duka di masa lampau, saat kita mengingatnya selalu senyum yang menghiasi, betapa kita menjadi kuat, dan betapa kita konyol saat rapuh dan menangisinya.
Tak ada bahagia yang tertukar, pun tiada duka seawet formalin. Puasa menjadi momen tersendiri untuk mengingat kepingan-kepingan kisah lalu entah itu kebahagiaan atau kesedihan,yang kemudian spiritual kita menjadi penuh syukur bahwa Tuhan memberi kesempatan menikmati puasa tahun ini.
Cinta, rasa Spiritual akan makin meningkat dengan mengenang momen dan waktu terutama di bulan Ramdhan ini, tapi kebaikan jangan ditunda hanya karena kita menunggu sebuah momen. Kematian menjadi satu-satunya alasan kita harus segera melakukan kebaikan, menjadi upaya kita meraih cinta Tuhan dan kita menjadi manusia yang bijak secara pribadi, sosial dan spiritual.
Semoga ibadah kita baik yang langsung maupun tak langsung mendapat tempat di hadapan Tuhan, bukan hanya sekedar ritual kewajiban yang tidak menghasilkan apa yang di inginkan Tuhan kepada hambaNya. Ibadah sejatinya input, outputnya ada pada diri kita sendiri memaknai hidup, memaknai perilaku sosial kita menjadi Rahmat bagi lingkungan dan memaknai ibadah itu sendiri.

*puasa hari ke 5 rupa-rupa warnanya*

Kamis, Juni 04, 2015

Catatan sebuah kardus

Sebuah kardus, merupakan dunia kotak yang mungkin sempit, hanya bisa menampung seorang anak kecil. Tapi, bagi seorang anak sepertiku, dunia kardus merupakan dunia yang penuh imajinasi. Jika yang pernah mengalami masa kecil bermain dengan kardus, tentu akan merasakan betapa daya imajinasi dan khayalan dunia dalam kardus begitu menyenangkan. Dunia yang diciptakan sendiri, tanpa ada orang yang mencibir, memusuhi bahkan membully.
Ketika pertama kali aku berjumpa dengan kotak kardusku, aku merasakan getaran-getaran indah melingkupi ruang hatiku. untuk beberapa saat aku memandang dia. Apa keistimewaaannya, sehingga mampu membuatku tertegun. Tiada yang istimewa, dia hanya sebuah kotak kardus televisi, yang hanya mampu menampung tubuh kecilku. tapi..seketika itu juga, aku jatuh cinta dan merasa bahwa dialah yang pantas mendapat kehormatan untuk berbagi dengan dunia imajinasiku. Kubawa kardus itu dengan riang gembira...Hatikupun bernyanyi, dan aku tak perduli lagi dengan alasan apapun, karena aku bahagia....
Di dalam kardus, aku bebas bercerita tentang kesedihan, kebahagiaan, atau pertanyaan-pertanyaan diri yang terkadang tak bisa dijawab oleh orang dewasa. Di dalam kotak kardus, aku bisa menangis, tanpa ada yang melihat. Aku bisa diam merenung untuk sesaat tanpa ada yang menatap dengan tatapan sinis. Dan ketika aku keluar dari kotak kardus, seakan bisa kuhadapi dunia. Aku  tak butuh orang lain untuk berbagi kardus. karena aku yakin, kardusku tak kan muat untuk dimasuki 2 orang apalagi lebih. Aku tak butuh anak-anak lain untuk mengerti keanehan pola imajinasiku dan khayalanku. Kusimpan saja berdua dengan kotak kardusku.
Segala rahasia telah kubagi dengan kotak kardusku. Hari- hari setelah kulalui denga dunia nyataku dan bermain dengan anak-anak lain, aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar menyapa dan masuk dalam dunia kardusku. Dunia yang kuciptakan sendiri. Aku bahagia.....
Dan tibalah, kala aku harus melepas kotak kardus kesayanganku, karena telah rusak terkena tetesan air hujan. Entahlah, seperti ada bagian dari kepingan hatiku ikut hilang, ketika onggokan kotak kardusku diambil pemulung. Aku menatap nanar, hampir saja jatuh air mataku. Aku kehilangan teman khayalanku, aku sedih kehilangan dunia yang aman, tanpa kekerasan, peperangan. Dan aku semakin sedih, akankah aku menemukan kotak kardus seperti dia.
Segala cara , kulakukan agar aku bisa menemukan dan mencari pengganti kotak kardusku. Tapi, tidak ada yang bisa menggantikannya, bahkan ketika aku mendapat yang lebih besar dan lebih bagus. Aku bingung, kenapa bisa begitu, seharusnya aku bahagia, mendapati kotak kardus baru yang lebih dari kotak kardusku yang lalu.
Hari itu, aku mendapat pelajaran hidup, tentang arti sebuah memiliki, siap memiliki siap pula mengakhiri. bahkan tangisan apapun tidak akan membuat apa yang telah pergi akan kembali, mungkin saja aku akan mendapat kardus baru atau teman imajinasiku yang lain. tapi, saat itu , aku belajar, bahwa ada kalanya, sesuatu memang tidak akan bisa terganti, akan tetap jadi memori indah dalam kepingan-kepingan hidup kita.
Hidup harus terus berjalan, dan aku tidak akan pernah lupa dengan kotak kardusku, teman yang tanpa suara, yang tidak akan pernah bisa dimengerti oleh orang dewasa. Aku berterima kasih atas kesetiaan, tempat dan dunia yang telah aku bagi dengan dia, dan aku pun takkan lupa dengan pelajaran tentang sebuah perjalanan hidup dari persahabatan aneh kami.
Pada akhirnya....akupun siap mencari teman khayalan lain, bukan berarti aku lupa pada kotak kardusku, tapi aku harus terus berjalan, menatap segala kemungkinan dan pelajaran hidup yang akan aku temui.
Dan......akupun mendpatkannya, sebuah Pohon Jambu didepan rumahku......

Antara Kopi dingin dan secarik kertas

Kesekian kali kekasihku....
kuseduh kopi sambil menunggu datangmu
mata tak sanggup terpejam karena rinduku
menggebu diantara kepulan asap kopimu

Kupandang kedua cicak yang asyik bercumbu
Untuk sesaat aku iri dengan dunia mereka berdua
Yang tanpa malu.....masih saja berkejaran penuh cinta
Merayap diantara dinding-dinding pemisah antara kau dan aku

Rasa kantukpun mendera menanti hadirmu
Tak jua kau datang dengan segenap rasamu
Tak akan kutanya kenapa kau begitu lama
Karena tugas baktimu sungguh yang utama

Tiada kudengar derap langkahmu kekasih
Namun.....Tiba-tiba saja tubuhku sudah berada dalam peraduan rindu kita
Dan secarik kertas berada di tanganmu yang penuh lelah
kubaca pelan dan senyum ku merekah
sambil terus kupandangi lelapmu dan lelahmu

Kopiku yang dingin telah kau teguk
hanya menyisakan ampas
Kalau sudah begini.....bagaimana bisa aku tidak merindumu?