Kamis, Maret 05, 2015

Perempuan berkerudung senja

Dan kadang keraguan itu muncul, menutupi keyakinan yang beberapa jam lalu sudah terpatri dan berbuncah
Tapi bukankah gunung pun yang seakan kokoh akan terbang bagai kapas di udara saat Terompet Sangkakala bergemuruh
Atau lautan yang tenang berombak ombak bisa tumpah ruah ke dataran memporak-porandakkan apa saja dihadapannya
Hati manusia mudah berubah-ubah oleh perasaan-perasaan yang tak tentu
Seumpama kepak kupu-kupu kertas yang hinggap dari satu putik dan benangsari pada bunga-bunga mekar
Mungkin kokohnya hati harus banyak belajar pada otot-otot kaki kuda yang kencang berderap-derap
Kecintaan pada lari hingga kuda-kuda melaju tak kenal lelah walau tanpa cambuk-cambuk
Hati yang mencinta pada yang fana pasti musnah
Hati yang merindu pada fisik rupawan pasti kan sirna
Rasa pada jiwa-jiwa yang tulus seakan abadi, bahkan surgapun menanti

Senja berkerudung jingga pada perempuan yang sedang belajar menerima cinta
Pada mayang hitam panjang yang tersapu angin sore itu.....wajah teduhnya seakan samar oleh dukanya pada cinta yang tak bertepi, pada rindunya yang menyayat hati
Hanya Dia, kegamangan hatinya dan senja bersemburat jingga yang mampu mengerti airmata duka yang tak sempat terjatuh dari kedua pipinya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar