Senin, Maret 23, 2015

Kenangan di Cangkir Kopi



Masih ingatkah kau malam itu...?
Dialog malam yg telah membuka suatu cumbuan...
Hingga malam pun bisu melihat kita bercumbu...
Bukan dia tak mengerti bahasaku....
Tapi, lantaran buta melihat warna percakapanku dengan mu...


Tak kurasa satu minggu telah berlalu...
Masih saja ku ingat senyum di wajahmu...
Cangkir kopi yg menjadi saksi bisu...
Terima kasih kamu...
Terima kasih atas hadirmu malam itu...

(Kota Tua, 21 Maret 2015)
Arjuna Ireng

Kamis, Maret 05, 2015

Pada sebuah ranjang

Jika sebuah hasrat hanya bertumpu pada lekuk tubuh...apalah arti sebuah cinta
Jika sepotong nafsu yang menggebu dan menggelora tak didasari hati....
maka kehancuran diri yang sudah menanti
Telah ku berikan segala resah dan gelisah malam-malamku pada desahan yang kian memburu
Tak kubiarkan ia menjadi milik selimut yang setia menempel di tubuh kita
Ia milikmu seutuhnya kekasih.....
Aku tak berdaya dengan guling yang memisahkan raga kita
Kita hanya saling berpandangan dan terus saja berbicara di atas peraduan yang temaram
Dan akupun terlena dengan tawamu dan suaramu yang seksi
Tapi bukan itu....
percayalah bukan itu saat kuletakkan hatiku di hatimu
Pikiran dan semua hal di otakmu tentangku yang membuat hasratku milikmu seutuhnya....

Perempuan berkerudung senja

Dan kadang keraguan itu muncul, menutupi keyakinan yang beberapa jam lalu sudah terpatri dan berbuncah
Tapi bukankah gunung pun yang seakan kokoh akan terbang bagai kapas di udara saat Terompet Sangkakala bergemuruh
Atau lautan yang tenang berombak ombak bisa tumpah ruah ke dataran memporak-porandakkan apa saja dihadapannya
Hati manusia mudah berubah-ubah oleh perasaan-perasaan yang tak tentu
Seumpama kepak kupu-kupu kertas yang hinggap dari satu putik dan benangsari pada bunga-bunga mekar
Mungkin kokohnya hati harus banyak belajar pada otot-otot kaki kuda yang kencang berderap-derap
Kecintaan pada lari hingga kuda-kuda melaju tak kenal lelah walau tanpa cambuk-cambuk
Hati yang mencinta pada yang fana pasti musnah
Hati yang merindu pada fisik rupawan pasti kan sirna
Rasa pada jiwa-jiwa yang tulus seakan abadi, bahkan surgapun menanti

Senja berkerudung jingga pada perempuan yang sedang belajar menerima cinta
Pada mayang hitam panjang yang tersapu angin sore itu.....wajah teduhnya seakan samar oleh dukanya pada cinta yang tak bertepi, pada rindunya yang menyayat hati
Hanya Dia, kegamangan hatinya dan senja bersemburat jingga yang mampu mengerti airmata duka yang tak sempat terjatuh dari kedua pipinya....

Pada Tegukan Kopi Rindu

Aku rindu pada sajak-sajak cinta yang kau rangkai untukku
Aku rindu pada puisi-puisi kehidupan yang kau kirimkan padaku
Kisah kasih yang tiada sangka berawal dari mana
Indah merasuk dalam relung hati kita
Tiba-tiba saja seluruh rasa terjatuh pada pesona hatimu
Kau bagai pangeran kunang-kunang setia menemani malam sunyiku
Sinarmu walau redup tertelan pekat malam berkilau laksana manik-manik mutiara khatulistiwa
Secangkir kopi hitam nan pahit kemudian terasa manis di lidah
Entah karna aku jatuh cinta atau mungkin diselingi kecupan manismu diantara tegukan demi tegukan
Kini....kau hasratku, kau gairahku, kau kerlingan mataku
Dan kaupun menjelma menjadi bait-bait menguntai sepanjang langkahku
Tetaplah seperti itu.....

Kau ini...

Pagi ini, kau katupkan kedua bibirmu
Kau silangkan tanganmu yang tegap diantara kedua dadamu
Ahhh....kekasihku
Sampai kapan wajah garangmu kan menghiasi hariku
Kata maaf sepertinya tak mempan lagi walau sekedar sesungging senyum
Secangkir kopi hitam pun lancar membasahi lehermu yang seksi
Tapi kerlingan matamu di pagi hari kok masih saja pelit kau bagi untukku?
Mungkin sebait dua bait puisi kan mencairkan rasa gundahmu
Kekasih......kuharap di peraduan malam kita nanti
Pelukan dan bisikan mesramu hadir kembali menghiasi ranjang kita

27 Februari