Menjadi seorang ibu adalah salah satu perjalanan yang dilalui seorang wanita. Mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat cikal bakal manusia.
Bukan pekerjaan mudah, banyak hal yang akan merubah sudut pandang, psikologis dan cerita hidup seorang wanita. Tiap hari kita seolah dituntut untuk terus-menerus dan berusaha mati-matian menunjukkan bahwa kita seorang ibu yang baik, sempurna dan bahagia, di depan orang lain, iya....padahal kenyataan realita di rumah berbeda.
Terkadang karena rasa capek, lelah dan bosan melanda, kita sering tak sengaja marah-marah pada anak hanya karena soal sepele, mereka susah makan sayur misal, atau tidak mau belajar, main terus dan seolah mereka tak menurut apa perkataan kita. Omelan, yang menurut kita benar, terus menghujani anak-anak dengan kalimat yang kadang menyakiti mereka. Pernahkan berpikir, bahwa kita juga pernah jadi seorang anak dan kesal saat diomelin orang tua kita. Kita seolah jadi ortu yang tahu segalanya, lupa berpikir adil dan tentu saja bersikap adil, bisa jadi kitalah sebagai orang tua yang terlalu banyak mengomel menjadikan anak-anak malas mendengar nasehat orang tuanya.
Rasa khawatir, takut, malu pada orang tua lain kalau anak-anak melakukan kesalahan menjadi beban tersendiri, belum saat anak tetangga atau teman kantor berprestasi, dan anak kita biasa-biasa saja di sekolah. Rasa malu, gengsi dan perasaan lain yang seharusnya tak perlu ada, karena setiap anak unik dengan bakat dan keahlian yang berbeda.
Yang terjadi kadang, kita sedang berusaha memberi makan ego di depan orang lain, dan menjadikan anak sebagai obyek. Apakah anak merasa bahagia sepertinya tak pernah terpikirkan oleh kita. Pernahkah berpikir bahwa anak kita mungkin saja berteriak dalam hatinya, hai ibu, hai bunda, hai mama.....aku ingin ngobrol santai, aku ingin bermain denganmu, aku ingin sekedar dipeluk, aku ingin diterima dengan segala kurangku, aku ingin ibu menjadi ibu yang ga suka ngomel, marah-marah, aku ingin ibuku menjadi tempatku menumpahkan keresahanku.
Kita tak akan pernah bisa menjadi ibu yang sempurna, yang mungkin harus selalu ada, atau memberikan segalanya pada anak-anak, tapi kita bisa memberikan waktu, kehadiran hati dan fisik, menemani mereka. Atau sekedar mengobrol apa saja tanpa menghakimi mereka, anak-anak kita mungkin butuh kita yang apa adanya, yang membuat mereka tak akan segan berbagi apapun.
Bahagialah dengan diri sendiri, karena bahagia dengan diri sendiri, kita akan menebarkan rasa bahagia pada orang-orang yang kita sayangi, terutama untuk anak-anak kita. Ibu yang bahagia akan membuat anaknya selalu bahagia.
Ira - 02 Oktober 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar