Terkadang sesuatu yang pada awalnya kita yakini benar dan serius menjalaninya, membuat kita menuju pada titik dimana seringkali kita menanyakan tentang hidup itu sendiri. Manusia diciptakan oleh Tuhan berbeda dengan mahluk lain, perbedaan terletak pada akal dan hatinya. Sebagai ciptaan Tuhan, semua mahluk hidup diberi anugerah jasad dan ruh, keduanya tidak bisa dipisahkan. Jasad tanpa ruh hanya sebuah bangkai busuk yang tak berguna, pun ruh tanpa jasad, akan terombang ambing dalam dunia tak kasat mata, dunia yang hanya Tuhan yang mampu menjangkaunya.
Sebagai mahluk ciptaaan Tuhan yang telah diberi anugerah akal dan hati, kita harus mampu menyeimbangkan, mengsingkronkan keduanya dalam menjalani peran di dunia ini. Akal saja tanpa hati hanya melahirkan manusia-manusia serakah, tamak dan penuh kemunafikan. Pun hati saja tanpa akal, menjadikan kita manusia yang naif dan seolah tak bertujuan. Memang, tiada manusia yang hanya menggunakan akalnya atau hatinya saja, manusia pasti menggunakan keduanya hanya mungkin kadarnya yang berbeda-beda. Sejahat-jahat manusia, apa mungkin dia akan jahat di segala sisi? sebaik-baik manusia, mustahil jika sama sekali tak menggunakan akalnya.
Dalam menjalani hidup ini, pandangan hidup, jalan pikiran dan hati kita seringkali berubah-ubah, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi. Mungkin persoalan yang sama di tahun lalu, tidak bisa dipecahkan atau diseleseikan dengan solusi yang sama juga. Waktu terus bergerak, dan perubahan jaman tak terelakkan. Kita setahun yang lalu menjadi berbeda dengan kita di tahun ini, secara hati dan akal. Banyak sekali faktor yang terus mengiringi langkah kita dalam membentuk diri sendiri, entah itu faktor dari diri sendiri, keluarga, pasangan atau faktor dari luar, pekerjaan dan lingkungan sosial kita.
Ada di satu sisi, terkadang kita mempertanyakan segala hal yang telah kita lakukan, baik itu kepada keluarga, anak-anak, pasangan, urusan kantor dan hidup bersosial. Kita sama sekali tidak bisa lepas dari semua itu. Kita mungkin telah merasa melakukan banyak hal, berkorban jiwa dan raga bahkan mengorbankan kepentingan pribadi kita demi sesuatu yang kita yakini akan membahagiakan kita. Kita selalu berpikir, jika kita melakukan ini, maka orang lain juga harus bisa memperlakukan sama seperti kita atau bahkan harus lebih. Memang tidak salah, saat kita berpikir demikian, manusiawi jika kita berpikiran dan berharap seperti itu.
Kita sudah melakukan apa saja untuk membahagiakan pasangan, berbakti pada orang tua, bekerja siang malam atau bahkan berusaha menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak. Kita seringkali merasa bahwa tenaga, pikiran dan segalanya telah kita korbankan demi orang-orang yang kita sayangi, tapi mengapa mereka tidak bisa melakukan hal sama dengan kita atau minimal menghargai dengan sedikit rasa terima kasih atau empati. Hati kita terkadang semakin terluka ketika mendapati bahwa orang-orang yang tiap hari bersama dengan kita, dimana kita telah merasa melakukan semuanya mendadak mati rasa pada kita, seakan tak perduli pada kita. Benarkah demikian? atau hanya itu permainan perasaan dan prasangka di akal kita? atau mungkin karena rapuhnya hati kita, hingga prasangka akal menguasai hati kita.
Setiap kita memiliki kekuatan dan ketahanan hatinya masing-masing, mungkin bagi orang lain masalah kita biasa-biasa saja, atau menurut pandangan kita masalah orang lain enteng-enteng saja. Kita tidak bisa kemudian menghakimi dan melontarkan komentar yang tidak menyenangkan hanya karena pandangan kita berbeda dengan orang lain, pun orang lain tidak serta merta seenak jidat mempengaruhi masalah-masalah kita. Semua ada ukuran dan kadarnya masing-masing, dan setiap orang memiliki masalahnya masing-masing.
Kembali ke persoalan dimana terkadang kita mempunyai pikiran atau perasaan bahwa semua sudah saya lakukan untuk mempetahankan rumah tangga, semua sudah saya lalukan untuk menyenangkan hati orang tua, berbagai usaha sudah saya jalani untuk menjadi orang tua yang baik buat anak-anak, pun kita sudah merasa jadi karyawan yang baik, rela lembur siang dan malam. Tapi....benarkah kita sudah maksimal? benarkah kita sudah melakukan segalanya? Padahal bisa jadi apa yang sudah kita lakukan, mungkin saja bukan sesuatu yang orang lain minta, kita melakukannya hanya karena sebuah ego diri, pencapaian pribadi, atau hal-hal lain yang mungkin saja tidak kita sadari. Bisa jadi, kita sibuk melakukan semua hal, tapi lupa melihat ke dalam hati kita, lupa merenungkan dan berkomunikasi dengan orang yang kita sayangi, bahwa apakah kita sudah berada pada jalur dimana kesepakatan dan keseimbangan sudah dijalani. Mungkin saja kita tidak sepenuhnya menjadi diri kita sendiri, sibuk dengan pikiran dan angan-angan tentang hidup yang ideal. Rumah tangga yang harmonis, orang tua yang mau mengerti kita, anak-anak yang penurut dan manis serta suasana kantor yang baik-baik saja tanpa konflik. Benarkah hidup se ideal itu, seindah yang kita inginkan, tentu saja tidak, tak ada hidup seperti itu. Semua butuh diperjungkan, dikomunikasikan dan diseimbangkan. Karena jika tidak kita sendiri yang menyeimbangkan, maka semesta dan dunia ini dengan sendirinya akan menyeimbangkannya, sesuai dengan arus dan garis edarnya, bisa kita sebut sebagai sunnatullah.
Bahwa hidup tak ada yang sempurna, iya, bahwa hidup tidak ada yang indah, benar adanya, tapi bukan berarti kita tak bisa menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Konflik, keributan, emosi bahkan kesedihan mewarnainya. Kita hanya perlu sedikit merenungkan dan berpikir, bahwa terkadang apa yang kita pikirkan bukan apa yang sebenarnya terjadi. Begitu juga dengan orang lain, mereka memiliki masalah mereka sendiri, dan tak perlu kita menjadi begitu sensitif dengan timbal balik orang kepada kita. Segala sesuatu yang kita anggap pas dengan kita pertahankan, pun jika kita memang sudah merasa tak sanggup lepaskan, tentu dengan mekanisme yang baik. Namun saat kita memutuskan pilihan tersebut, yakinilah bahwa kita sanggup bertahan dan melaluinya.
Don't be like an asshole, everyone have their own problem
Es Campur siang ini
Ira R
Tidak ada komentar:
Posting Komentar